besarmulut.com

Amateur Storyteller

  • “Sudah, jangan ganggu istri orang” kata yang entah berapa kali keluar dari mulutku untuk mengingatkan temanku yang sedang sibuk beraksi mendapatkan perhatian mantannya yang sudah menjadi istri orang. Tidak sepenuhnya salah temanku memang, karena bukan dia yang memulai.

    Katanya dia sudah bertahun-tahun tidak bertegur sapa dengan mantannya, baik itu secara nyata ataupun maya. Mantannya lah yang memulai pembicaraan maya ini dengan menanyakan apa kabarnya sekarang. Dalam awal obrolan mereka, mantannya memberi tahu bawa ia dan suaminya baru saja pulang berbulan madu di kota yang sempat temanku singgahi untuk menuntut ilmu.

    Aku tidak mengerti maksud dari pemberitahuan atas selesainya mereka berbulan madu. Tetapi, temanku masih begitu gigih untuk mendapatkan perhatian mantannya lagi. Entah karena dia sedang percaya diri karena kembali berbincang, atau dia sedang mencoba mengulang kenangan-kenangan yang dulu dia jalani dengan sang mantan. Apapun alasannya aku tak peduli, aku lebih peduli untuk menghentikan aksinya. Sebab, bila keterusan dan kebablasan aku berani jamin luka yang sempat dia goreskan akan berbalik kembali padanya.

    Dalam aksinya merebut perhatian sang mantan, temanku sempat bercerita. Dulu ketika mereka dalam satu ikatan rasa, temanku sempat berkhianat dengan kembali mengikat rasa dengan orang lain dalam waktu yang sama. Temanku menjalani dua ikatan dalam waktu yang lama dan temanku mengakui dia begitu senang, dia merasa berjaya ketika temanku berhasil menaklukkan dua hati yang rupawan, tidak seperti rupanya. Maaf, untuk perkara ini aku berkata jujur. Temanku beruntung dalam tindak curangnya.

    Aksi terus berjalan dalam tiap ketikan maya, kataku seakan tak pernah masuk dalam rongga telinganya. Entah apa yang dipikirkannya untuk terus mengganggu istri orang. Ada dua kemungkinan dalam pikirku; pertama, temanku sedang merasa jadi jagoan karena sang mantan memberi kabar kepulangannya berbulan madu untuk menjelaskan bahwa mantannya tak bahagia dengan suami ketika berbulan madu, tidak seperti mereka bahagianya saat masih dalam satu ikatan melakukan nikmatnya kesalahan.  Atau kedua, mantannya memberi tahu kepulangannya berbulan madu untuk menunjukkan bahwa ia sekarang sudah begitu bahagia dengan suaminya, tidak ketika bersama temanku yang pernah meninggalkan luka karena sempat berkhianat dalam ikatan.

    Bila aksinya didiamkan, tentu ini akan menjadi masalah besar karena melibatkan suami mantannya juga. Bila kemungkinan pertama yang benar karena dipengaruhi kenangan yang tetap hidup di pikirannya. Aku khawatir akan terpisahnya satu janji baru, bagaimana jika satu bibit sudah mulai tercipta saat bulan madu sudah terselenggara? Masa harus mengorbankan bibit yang hendak mencoba hidup karena hanya keegoisan rasa? Apa masih berani menyebut diri kita manusia? Dan ketika bibit itu sudah terlahir di dunia dan si pelaku penciptanya sudah berpisah, dia tidak punya kendali apa-apa, memilih pun dia tak bisa.

    Bila kemungkinan kedua yang benar, aku khawatir temanku akan tenggelam dalam luka balasan akibat khayal yang diciptakan dari kenangan-kenangan yang masih hinggap di pikirannya. Aku khawatir temanku tergores luka yang dia goreskan sendiri, dan pikiranku lebih bersepakat pada kemungkinan yang kedua. Lalu bagaimana dengan kalian?

  • Dalam sebuah ruang yang riuh, di mana suara obrolan dan suara musik saling berebut adu. Ada 1 suara obrolan yang berhasil aku curi malam ini, ditemani secangkir Gayo Wine yang baru saja menghampiri.

    Tepatnya, di meja belakangku. Terdapat sepasang manusia yang sepertinya bukan sepasang kekasih. Tetapi membicarakan perihal hati begitu intim. Otakku memproduksi asumsi. Pertama, mungkin mereka sepasang teman yang sedang berkeluh kesah. Kedua, mungkin juga sepasang teman yang terjebak rasa namun terhalang tembok pertemanan. Untuk asumsi yang kedua, aku yakin yang terjebak rasa pasti hanya salah satu dari mereka, tidak keduanya.

    Dan benar, selama aku mencuri dengar, obrolan mereka berisi tentang rasa yang bertepuk sebelah tangan. Teman Pria tengah sibuk mendominasi suasana, menceritakan bagaimana rasa yang dia simpan selama mereka berteman.

    Dia pun memulainya dengan kalimat “kita sudah dewasa, perihal rasa bukan lagi tentang kata yang diucapkan oleh rasa tersebut. Kita sudah sepatutnya paham cara kerja perasaan, yaitu mengucapkannya melalui semua hal yang terjadi di antara kita”.

    Lalu dia melanjutkan “perihal rasa tentangmu, ibarat membangun semesta baru yang sebelumnya pernah aku hancurkan dan tak mau aku bangun lagi dan semua berubah ketika aku bertemu denganmu, semangatku berapi-api untuk membangun semesta baru. Sampai aku sadar bahwa ada sesuatu yang membatasi, namun semesta sudah keburu aku bangun. Semesta yang kali ini aku bangun tidak akan aku hancurkan lagi karena aku lelah untuk terus membangun dan menghancurkannya berkali-kali. Biarkan semesta kali ini tetap terbangun dengan aku yang terjebak di dalamnya, dan sengaja di semesta kali ini aku sudah menghilangkan pintu dan jendela agar tidak ada jalan keluarnya. Aku biarkan waktu saja yang akan menghancurkan semesta baru ini beserta isi-isinya.” 

    Di tengah gigihnya aku mencuri dengar, ada suara musik yang tak asing mulai mencoba untuk merusak konsentrasi telingaku. Hingga aku melupakan mereka dan ikut bersenandung atas musik yang berhasil mencuri perhatianku. Sial, sang pencuri malah tercuri.

    Ketika aku mulai sadar perhatianku dicuri oleh musik yang tak asing ku dengar. Telingaku mulai kembali untuk berkonsentarsi di meja belakang. Terdengar hentakan kaki, terlihat Teman Pria berdiri seperti ingin mengucapkan kalimat perpisahan mereka di hari itu “Tenang, santai saja. Semua yang bertemu pasti akan berpisah, sama seperti kita, kapan saja bisa terjadi. Tinggal lihat waktunya saja, cepat atau lambat. Terimakasih sudah mengajarkan keikhlasan tanpa harus mengucapkan. Tidak apa-apa kalau hasilnya sia-sia, karena tulus seharusnya tak mengharapkan apa-apa.”

    Aksi curi dengar pun berakhir, Teman Pria pergi meninggalkan Teman Wanita tanpa ekspresi sedih sama sekali. Teman Wanita yang hanya berdiam diri di saat curi dengar beraksi tampak beranjak pergi dari kedai kopi yang semakin disekaki manusia. Dari apa yang sampaikan Teman Pria tadi, aku mendapatkan satu pandangan baru perihal hidup untuk cukup dan bahagia jangan terlalu sulit ataupun terlalu tinggi, sederhana saja. Seperti cukup dengan sendiri dan bahagia dengan kesendirian.

    Aku pun ikut beranjak keluar meninggalkan meja dan sisa-sisa tetesan kopi yang tak ku minum dengan khidmat karena sibuk mencuri. Malam semakin menujukkan dirinya, manusia-manusia terus berdatangan. Aku yang habis mendengarkan orasi singkat dari Teman Pria mencoba mencari jalan untuk mulai hidup bahagia dengan kesendirian.

  • Saat sudah membuka pintu ruangnya, saat sudah mengizinkan berdua bersama dalam satu ruang dan ketika bosan datang, seenaknya pergi begitu saja dengan mengunci kembali pintu ruang tanpa peduli masih ada aku yang terjebak di dalam.

    Pintu Ruang
  • Ada banyak kemampuan yang harus dilatih sebagai manusia untuk hidup di dunia. Kemampuan untuk bekerja, kemampuan untuk bersosial, sampai kemampuan untuk diri sendiri, seperti memasak atau menjahit. Semua itu dilatih berdasarkan tujuan tertentu dengan masa waktu yang tidak sedikit, tergantung dari tingkat kesulitan dan kemauan untuk melatih kemampuan itu sendiri.

    Menurutku ada satu kemampuan yang juga harus dilatih manusia, yaitu melatih kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian. Tidak ada hal yang menjamin bahwa kita akan selalu hidup berramai-ramai atau berpasangan. Tidak ada satu hal yang pasti untuk menjamin itu. Kita semua sebagai manusia selalu punya kesempatan risiko untuk hidup sendiri. Hidup dengan segala kemungkinan atas kehilangan yang siap menyapa di depan, akan menjadi masalah jika kita memberikan ekspektasi atas kehilangan-kehilangan tersebut. Jadi, tidak ada salahnya untuk memulai melatih kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian.

    Aku menyakini kemampuan ini akan sangat berguna di masa depan, kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi resiko kehilangan yang menyapa di depan. Tentu, ini dilakukan untuk kebaikan diri kita sendiri. Banyak orang yang tidak siap menghadapi kesendirian karena kehilangan. Padahal mereka sadar, kemungkinan mereka disapa oleh kehilangan sangat besar. Tapi anehnya, banyak dari kita paham akan risiko ini tapi tidak banyak yang bisa memiliki kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian. Mungkin penyebabnya karena mereka terlalu percaya diri hidupnya akan selalu berramai-ramai atau berpasangan, atau mereka memang enggan untuk berlatih karena tak bisa memilih sebab dibutakan kenyamanan kehidupan berpasangan.

    Atas segala risiko kehilangan yang siap menyapa di depan akan berpusat pada ekspektasi kita akan sesuatu kehilangan tersebut. Ekspektasi bisa dikatakan menjadi sumber masalah utama manusia dalam menikmati kekecewaan. Semakin tinggi ekspektasi, semakin tinggi kekecewaan. Tapi banyak dari kita tak sadar akan hal ini, masih saja terjebak dalam ekspektasi tinggi. Lalu ketika kecewa sudah datang, mulai menyalahkan siapapun di sekitarnya. Padahal, ini salahnya sendiri kenapa mau berekspektasi terlalu tinggi atas suatu hal yang sebenarnya dia sadari bahwa tak ada yang menjamin ekspektasinya terhindar dari kekecewaan.

    Melalui kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian, kita akan terbiasa untuk tidak berekspektasi kepada apapun dan kepada siapapun. Semua manusia memiliki kesempatan untuk saling mengecewakan, hanya dirimu sendirilah yang sebenar-benarnya tidak akan pernah mengecewakan. Melalui kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian, kita belajar untuk lebih peduli atas diri sendiri, menyayangi diri sendiri, menjaga diri sendiri, sampai belajar untuk tidak mengecewakan diri sendiri sebagai balasan karena diri juga tidak akan pernah mengecewakan kita.

    Daripada sibuk untuk menghabiskan waktu atas ekspektasi orang lain yang tidak memiliki jaminan apapun, lebih baik kita sibuk untuk melatih kesendirian. Mempersiapkan diri atas segala risiko kehilangan di depan, karena ketika kehilangan sudah menyapa, kita sudah terbiasa. Melatih kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian pada akhirnya akan menghasilkan lega. Bukankah yang selalu dicari manusia dalam hidup adalah kelegaan? Dengan melatih kesendirian, mul kita sendiri?

  • Kenapa kita harus khawatir dengan kesendirian? Apakah kesendirian itu sebuah beban yang begitu berat jika dibandingkan dengan berbagai macam masalah yang kita hadapi? Sebentar, apakah kesendirian merupakan sebuah masalah? Sehingga harus menjadi sebuah kategori beban yang harus kita masukkan dalam daftar hidup kita?

    Dalam sebuah “kesendirian” sebenarnya ada banyak perspektif yang bisa diambil. Tentu perspektif paling awal yang biasanya diambil adalah sedih, minder, insecure dan perspektif-perspektif nihil lainnya. Padahal dalam memaknai kesendirian ada banyak perspektif lain yang bisa diambil. Apalagi sebagai makhluk yang mengaku memiliki Tuhan, harusnya kesendirian bukan menjadi sebuah masalah.

    Begini, aku beri beberapa perspektif lain dari suatu kesendirian dalam ranah makhluk yang mengaku memiliki Tuhan. Bagaimana jika Tuhan membiarkanmu sendiri karena Tuhan sayang denganmu, karena Tuhan peduli denganmu, Tuhan menjaga perasaanmu dari manusia-manusia yang sangat bisa menghancurkan hatimu begitu saja. Pernahkah berpikir begitu?

    Lalu, bagaimana jika kesendirian merupakan sebuah kesempatan untuk mengejar sesuatu yang belum bisa kau capai? Tuhan membiarkan kau sendiri agar kau memiliki waktu lebih untuk fokus kepada banyak hal terutama sesuatu yang ingin kau capai atau kesempatan-kesempatan lain, bisa saja kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga, karir, mungkin juga cita-cita bahkan hobi pun bisa.

    Jadi, masih mau untuk terus berburuk sangka atas suatu kesendirian? masih mau untuk terus terjebak dalam perspektif nihil yang sudah pasti sangat merugikan?

    Aku sudah beri perspektif lain atas kesendirian, coba mulai dipertimbangkan. Jika kau memiliki perspektif yang lain, coba tuliskan di kolom komentar di bawah atau jka kau punya argumen yang kuat untuk membenarkan sikap nihilmu itu, tuliskan juga aku ingin lihat seberapa dalam sikap nihil itu mengekangmu.

    Hidup ini singkat, tapi kita memiliki banyak pilihan untuk menanggapi arti dari suatu kesendirian. Merugilah kita kalau hidup yang singkat ini hanya terjebak untuk menikmati sedih.