besarmulut.com

Amateur Storyteller

  • Berawal pada yang tidak pernah disangka yang dulunya hanya dikira sebuah ketidakmungkinan yang diharapkan. Bertahun-tahun mencoba bertahan dalam diam karena mengerti diri tak akan mampu melakukan dan tak mau mengatakan ke siapapun karena tak siap melihat bila teman mengambil kesempatan seperti yang sudah-sudah belakangan. Seperti langit dan perut bumi yang benar-benar pertemuannya tak pernah ada yang memungkinkan, kecuali Tuhan.

    Dulu, nurani terus menuntut agar mau mencoba mendekati tanpa pernah berpikir bagaimana hasilnya nanti yang penting sudah mau mencoba mendekati. Tetapi nalar mengeyahkan niat yang coba dibangun oleh nurani, mencoba untuk terus menyadarkan bahwa diri memang benar tidak mampu dan berharap jangan memaksa karena hanya akan menyakitkan di hari kemudian.

    Di balik perseturuan antara nurani dan nalar yang bertahun-tahun dipertahankan, semuanya buyar karena sebuah pesan yang tidak pernah diduga akan kembali datang. Pesan yang selama ini hanya dikira sebuah ketidakmungkinan. Benar-benar kejutan dari Tuhan yang tiba-tiba mengabulkan harapan yang lama terdiam.

    Dalam ketidakmungkinan yang dikabulkan Tuhan, terlalu banyak kejutan yang dihadirkan melalui percakapan-percakapan. Seperti terjebak dalam cerita minim yang singkat dan tak pernah percaya bagaimana sebuah kenyamanan bisa hadir begitu cepat bila melihat bagaimana dulu bertahan mendiamkan harapan begitu lama.

    Sekarang, nurani dan nalar tetap berseteru padahal yang diharapkan sudah berada dalam jangkauan. Tak lagi benar-benar jauh, seolah dalam dekapan dan semoga itu benar. Nurani tetap menginginkan untuk terus melanjutkan agar perasaan dapat disalurkan, tak hanya sekedar diam yang justru hanya menjadi beban pikiran. Nurani benar-benar peduli. Tetapi nalar menolak mentah-mentah apa yang diinginkan oleh nurani, nalar kembali dengan tegas untuk tidak melanjutkan dan tetap percaya pada semua ketidakmungkinan yang sudah hadir selama bertahun-tahun. Nalar semakin gencar mengingatkan akan lalu-lalu yang hanya menghadirkan ketakutan.

    Di tengah perseteruan antara nurani dan nalar, apakah benar ini kejutan Tuhan atas segala ketidakmungkinan yang diharapkan atau ini hanya sekedar cobaan yang sedang Tuhan berikan sebagai bentuk teguran. Pertanyaan itu terus menghujani di tengah keraguan yang tak pernah mau pergi, di tengah nurani dan nalar yang terus berebut dominasi diri.

    Nalar meminta untuk berhenti dan mengerti pada ketakutan yang masih berkutat. Nurani meminta untuk membuka diri agar tak terus membohongi diri dan bersembunyi dalam keraguan-keraguan yang selalu menemani.

    Dan, sisanya kembali kepada diri sendiri untuk membiarkan siapa yang mendominasi antara nalar dan nurani.

  • Di penghujung malam kemarin di tengah hujan yang begitu deras aku mendapatkan pesan dari seorang teman lama di aplikasi hijau yang menceritakan kondisinya saat ini yang serba datar. Beliau mengatakan bahwa hidupnya belakangan ini terasa datar dengan tidak memiliki ketertarikan akan apapun dengan perempuan. Dia bingung dan menanyakan bagaimana caranya untuk bisa kembali menaruh hati kepada seorang perempuan setelah bertahun-tahun menikmati hidup sendirian.

    Aku mengerti perasaan itu, seperti hidup tetap berjalan tapi semuanya terasa hambar tidak ada yang bikin “gregetan” lagi. Mungkin seperti kehilangan “rasa” dalam hidup ya? Atau kehilangan koneksi emosional dengan seseorang. Bisa jadi karena sudah terlalu nyaman sendiri, sampai tidak sadar kalau perlahan kehilangan dorongan untuk mencari sesuatu yang lebih berarti.

    Kemudian, dia melanjutkan ceritanya di tahun 2021 yang sempat bertemu dengan seorang perempuan yang benar-benar menarik perhatiannya. Namun di penghujung 2022 dia melepaskan perempuan tersebut karena merasa tidak layak.

    Aku penasaran, apakah rasa tidak layak itu lebih ke perasaan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi dan akhirnya memilih mundur? Memang terkadang kita lebih keras ke diri sendiri daripada orang lain.

    Dari ceritanya, menurutku mungkin ini bukan soal tidak bisa menaruh hati kembali namun lebih kepada kehilangan makna dalam hal-hal yang penting. Bisa jadi ini hanya fase atau mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang perlu “disembuhkan” dulu sebelum bisa merasa excited lagi untuk ngobrol dengan orang baru.

    Selain itu, aku juga menyarankan untuk kembali mencoba menjalin komunikasi dengan perempuan yang sempat menarik perhatiannya dulu. Namun dia menolak karena perempuan tersebut katanya akan menikah dengan pasangan barunya, dia takut jika hal tersebut dilakukan akan merusak hubungan orang.

    Aku paham dan salut dengan cara berpikirnya. Dia masih menghormati dan tidak mau mengganggu kebahagiaan perempuan tersebut. Itu pertanda kalau dia sudah menjadi orang yang benar-benar peduli dan dewasa. Tapi di sisi lain dari obrolan maya yang bikin aku begadang meladeni ceritanya, aku bisa merasakan kalau perasaan kehilangan itu masih ada di dalam dirinya, meskipun dia sadar atau tidak.

    Aku kembali memberi saran untuk mulai menemukan makna baru dalam hidupnya. Aku yakin ini tidak gampang, tapi kalau dipikir-pikir karena dia sempat excited dan bersemangat sebelumnya, artinya dia masih punya kapasitas untuk merasakan itu lagi. Cuma sekarang mungkin perlu cara baru dan pengalaman baru.

    Menurutnya, masalah utama dalam hidupnya saat ini adalah kehilangan ketertarikan mengobrol dengan perempuan baru sehingga dia bingung untuk bagaimana bisa mencapai rasa excited dan semangat itu lagi.

    Aku paham, sepertinya masalah ini bukan cuma soal perempuan baru, tapi lebih ke perasaaan yang masih belum benar-benar pulih dari pengalaman sebelumnya. Bukan berarti masih jatuh hati ya, tapi lebih ke dampaknya yang merasa tidak ada lagi orang yang bisa kasih vibe dan koneksi yang sama.

    Kadang, kalau kita sudah pernah mengalami sesuatu yang meaningful, tanpa sadar standar kita jadi naik. Jadi ketika ngobrol dengan orang baru, kita secara tidak sadar ngebandingin dan kalau tidak ketemu “klik” yang sama, kita jadi malas atau merasa datar, dan menurutku itu wajar.

    Mungkin sekarang bukan soal mencari perempuan baru, tapi lebih ke reset cara pandang dulu. Bukan berarti harus buru-buru jatuh hati lagi, namun mencoba untuk ngobrol tanpa ekspektasi apa-apa, sekedar menikmati interaksi tanpa harus mikir jauh. Kadang, makin kita merasa “harus” excited, makin membuat kita sulit untuk beneran excited.

    Kemudian, arah ceritanya berganti. Dia mulai membahas kekhawatirannya atas mitos bahwa di umur 30-an dia takut Tuhan akan lepas tangan atas jodohnya.

    Wkwk, Tuhan lepas tangan itu mitos banget menurutku. Jika iya, orang yang menikah di umur 40-50 harusnya sudah tidak ada harapan dong? Nyatanya, banyak orang yang ketemu pasangan terbaiknya justru setelah umur 30-an, bahkan ada yang baru menikah di usia 40-an dan tetap bahagia.

    Sebenarnya yang bikin sulit itu bukan karena “Tuhan lepas tangan” tapi lebih ke faktor lingkungan dan mindset. Di umur 30-an, biasanya kita lebih selektif, tidak asal cari pasangan hanya untuk status saja. Kita juga sudah lebih mandiri, jadi tidak gampang terpukau dengan hal-hal sepele seperti waktu masih 20-an.

    Jadi, kalau di umur 30-an masih sendiri dan belum ada rasa untuk mencari pasangan, tidak masalah, tidak harus terburu-buru. Tapi kalau suatu saat ada seseorang yang benar-benar menarik perhatian, jangan ragu untuk kembali membuka hati. Kadang yang terbaik suka datang di saat yang tidak kita duga.

    Dia melanjutkan dengan bertanya tentang pilihan hidupnya untuk tetap sendiri dan tidak menikah karena masih begitu nyaman dengan kesendiriannya. Dia menjelaskan selama ini hampir melakukan aktifitas sendirian, seperti nonton konser sendiri, nonton bioskop, bahkan kulineran pun pergi dan makan sendirian.

    Hidup bukan merupakan sebuah perlombaan untuk siapa yang lebih dulu menikah atau punya pasangan. Jika saat ini nyaman hidup sendiri dan menikmati hidup dengan cara tersebut, ya jalani saja.

    Banyak orang memaksakan diri untuk menikah hanya karena tekanan sosial atau takut sendirian di masa depan, padahal kebahagiaan tidak selalu datang dari hubungan romantis. Ada orang yang bahagia dengan pasangan, ada yang bahagia sendiri dan keduanya valid.

    Selama hidup kita masih bisa berkembang, menikmati hidup, dan merasa bahwa kesepian bukanlah hal yang menyiksa. Tidak ada alasan untuk mengubah sesuatu yang sudah bikin kita nyaman. Tapi jika suatu saat perasaan kita berubah dan ingin mencoba berhubungan lagi, tidak ada salahnya yang penting keputusan itu datang dari diri sendiri bukan dari omongan orang lain.

    Kalau pergi nonton konser, nonton bioskop dan pergi kuliner sendirian itu sudah bikin kita sendiri bahagia, berarti kita sudah menang dalam hidup versi kita sendiri.

    Perihal pendapatku tentang hidup sendirian di masa depan, dia kembali memastikan apakah keputusannya saat ini untuk fokus hidup sendiri itu salah atau tidak. Karena menurutnya, dia merasa tidak nyaman dengan pendapat orang lain yang mengatakan bahwa jika tetap memilih sendiri dan tidak memiliki anak dikhawatirkan ketika tua nanti tidak ada yang mengurusnya.

    Keputusan untuk tetap hidup sendiri bukanlah hal yang salah. Hidup ini milik kita sendiri dan kita yang paling tahu apa yang bikin kita bahagia. Menikah atau tidak, punya anak atau tidak, semuanya adalah pilihan, bukan kewajiban.

    Orang-orang yang bilang jika di masa tua bakal repot tanpa anak itu merupakan pola pikir orang lama yang masih menganggap anak sebagai “investasi” buat jaminan hari tua. Anak tidak pernah minta untuk dilahirkan, menurutku. Maka rasanya tidak adil kalau anak dibebani tanggung jawab untuk merawat orang tua hanya karena “seharusnya begitu”. Banyak orang yang punya anak, tapi di masa tua tetap sendirian atau bahkan dirawat di panti jompo. Semua balik lagi ke keputusan diri sendiri, jika tetap ingin sendiri apakah mau hidup di panti jompo.

    Namun juga tidak salah jika sebagai seorang anak untuk tetap merawat orang tuanya di masa tua karena rasa kasih sayang sebagaimana yang telah orang tua berikan sedari kecil.

    Sebaliknya, banyak juga orang yang memilih hidup sendiri tapi tetap bisa menikmati masa tua dengan baik. Mereka membangun support system, punya teman-teman yang saling menjaga, dan mempersiapkan finansial dengan baik agar tetap mandiri.

    Selama kita punya rencana untuk masa depan dan menikmati hidup dengan pilihan kita, tidak ada yang perlu dikhawatirkan yang penting kita menjalani hidup dengan penuh makna, entah itu dengan atau tanpa pasangan dan anak. Hidup bukan tentang mengikuti ekspektasi orang lain, tapi tentang bagaimana kita merasa puas dan damai dengan pilihan kita sendiri.

  • Reuni, terkadang tidak hanya menjadi ajang pertemuan antara teman-teman lama yang mungkin sudah berbeda kota, memiliki keluarga, bahkan mengganti alat kelaminnya. Reuni juga kembali mempertemukan sepasang manusia yang sempat memadu kasih, entah itu jalur senyap atau jalur resmi.

    Kemarin, Aku mendapatkan pesan dari teman lama, seorang perempuan yang sempat menjadi koki makanan instan, ibu pengasuh bahkan guru les matematika di kwartir era sekolah. Beliau menceritakan kegelisahannya pasca bertemu kembali dengan teman “intim” masa sekolah usai pesta pernikahan teman seangkatan.

    “Kisah kami gatau jalur finishnya di mana. Aku mau marah, juga ga punya hak apa-apa. Aku bukan siapa-siapa dia, dan ga pernah jadi apa-apa” tulisnya dalam aplikasi hijau di malam itu.

    Benar soal ini, karena semasa sekolah mereka hanya berteman. Pertemanan yang cukup “erat” makanya aku menggunakan kata “intim” di paragraf sebelumnya karena bingung menggunakan kata apa untuk menggambarkan keeratan mereka yang sama-sama memiliki pasangan namun di sekolah lain.

    “Sekarang, aku udah punya jalur sendiri. Begitu pun dia. Tapi rasanya, aku masih ingin berbalik arah menuju ke jalur “nya”. Walaupun mustahil, bahkan untuk dimulai,” lanjutnya.

    Di sini kegelisahan itu di mulai. Kenapa? karena teman perempuan ini sudah menikah dan memiliki anak. Namun masih terjebak dengan situasi romansa masa sekolah. Aku khawatir apa yang dia jalani sekarang berdampak ke anak-anaknya. Seperti ketidakharmonisan keluarga yang tentu berdampak pada tumbuh kembang anaknya atau menanam karma untuk anaknya di masa depan.

    “Kalau aja dulu dia jauh lebih cepat ungkapin apa yang dia rasa, dan aku juga lebih cepat tahu apa yang dirasa. Mungkin sekarang, aku bukan cuma jadi kenangan,”

    Mungkin ini bisa dikatakan “unfinished business” sebab mereka berpisah di ujung masa sekolah dengan tidak baik-baik dan berbeda kota bahkan pulau selama bertahun-tahun. Namun, ketika kembali bertemu mereka tidak kembali membahas atau menyelesaikan masalah yang dulu sempat memisahkan mereka. Sekali lagi, ini hanya analisa gembel ya. Selebihnya tidak tahu apakah analisa itu benar atau tidak h3h3h3.

    Tapi yang jauh bikin penasaran sebenarnya apa sih yang membuat kisah ini terus bertahan bertahun-tahun? Meskipun satu sama lain sudah sempat menjalani hubungan dengan manusia lain di bumi. Namun, tetap kembali menjalin koneksi meskipun belum tahu letak ujungnya bagaimana.

  • “Sudah, jangan ganggu istri orang” kata yang entah berapa kali keluar dari mulutku untuk mengingatkan temanku yang sedang sibuk beraksi mendapatkan perhatian mantannya yang sudah menjadi istri orang. Tidak sepenuhnya salah temanku memang, karena bukan dia yang memulai.

    Katanya dia sudah bertahun-tahun tidak bertegur sapa dengan mantannya, baik itu secara nyata ataupun maya. Mantannya lah yang memulai pembicaraan maya ini dengan menanyakan apa kabarnya sekarang. Dalam awal obrolan mereka, mantannya memberi tahu bawa ia dan suaminya baru saja pulang berbulan madu di kota yang sempat temanku singgahi untuk menuntut ilmu.

    Aku tidak mengerti maksud dari pemberitahuan atas selesainya mereka berbulan madu. Tetapi, temanku masih begitu gigih untuk mendapatkan perhatian mantannya lagi. Entah karena dia sedang percaya diri karena kembali berbincang, atau dia sedang mencoba mengulang kenangan-kenangan yang dulu dia jalani dengan sang mantan. Apapun alasannya aku tak peduli, aku lebih peduli untuk menghentikan aksinya. Sebab, bila keterusan dan kebablasan aku berani jamin luka yang sempat dia goreskan akan berbalik kembali padanya.

    Dalam aksinya merebut perhatian sang mantan, temanku sempat bercerita. Dulu ketika mereka dalam satu ikatan rasa, temanku sempat berkhianat dengan kembali mengikat rasa dengan orang lain dalam waktu yang sama. Temanku menjalani dua ikatan dalam waktu yang lama dan temanku mengakui dia begitu senang, dia merasa berjaya ketika temanku berhasil menaklukkan dua hati yang rupawan, tidak seperti rupanya. Maaf, untuk perkara ini aku berkata jujur. Temanku beruntung dalam tindak curangnya.

    Aksi terus berjalan dalam tiap ketikan maya, kataku seakan tak pernah masuk dalam rongga telinganya. Entah apa yang dipikirkannya untuk terus mengganggu istri orang. Ada dua kemungkinan dalam pikirku; pertama, temanku sedang merasa jadi jagoan karena sang mantan memberi kabar kepulangannya berbulan madu untuk menjelaskan bahwa mantannya tak bahagia dengan suami ketika berbulan madu, tidak seperti mereka bahagianya saat masih dalam satu ikatan melakukan nikmatnya kesalahan.  Atau kedua, mantannya memberi tahu kepulangannya berbulan madu untuk menunjukkan bahwa ia sekarang sudah begitu bahagia dengan suaminya, tidak ketika bersama temanku yang pernah meninggalkan luka karena sempat berkhianat dalam ikatan.

    Bila aksinya didiamkan, tentu ini akan menjadi masalah besar karena melibatkan suami mantannya juga. Bila kemungkinan pertama yang benar karena dipengaruhi kenangan yang tetap hidup di pikirannya. Aku khawatir akan terpisahnya satu janji baru, bagaimana jika satu bibit sudah mulai tercipta saat bulan madu sudah terselenggara? Masa harus mengorbankan bibit yang hendak mencoba hidup karena hanya keegoisan rasa? Apa masih berani menyebut diri kita manusia? Dan ketika bibit itu sudah terlahir di dunia dan si pelaku penciptanya sudah berpisah, dia tidak punya kendali apa-apa, memilih pun dia tak bisa.

    Bila kemungkinan kedua yang benar, aku khawatir temanku akan tenggelam dalam luka balasan akibat khayal yang diciptakan dari kenangan-kenangan yang masih hinggap di pikirannya. Aku khawatir temanku tergores luka yang dia goreskan sendiri, dan pikiranku lebih bersepakat pada kemungkinan yang kedua. Lalu bagaimana dengan kalian?

  • Dalam sebuah ruang yang riuh, di mana suara obrolan dan suara musik saling berebut adu. Ada 1 suara obrolan yang berhasil aku curi malam ini, ditemani secangkir Gayo Wine yang baru saja menghampiri.

    Tepatnya, di meja belakangku. Terdapat sepasang manusia yang sepertinya bukan sepasang kekasih. Tetapi membicarakan perihal hati begitu intim. Otakku memproduksi asumsi. Pertama, mungkin mereka sepasang teman yang sedang berkeluh kesah. Kedua, mungkin juga sepasang teman yang terjebak rasa namun terhalang tembok pertemanan. Untuk asumsi yang kedua, aku yakin yang terjebak rasa pasti hanya salah satu dari mereka, tidak keduanya.

    Dan benar, selama aku mencuri dengar, obrolan mereka berisi tentang rasa yang bertepuk sebelah tangan. Teman Pria tengah sibuk mendominasi suasana, menceritakan bagaimana rasa yang dia simpan selama mereka berteman.

    Dia pun memulainya dengan kalimat “kita sudah dewasa, perihal rasa bukan lagi tentang kata yang diucapkan oleh rasa tersebut. Kita sudah sepatutnya paham cara kerja perasaan, yaitu mengucapkannya melalui semua hal yang terjadi di antara kita”.

    Lalu dia melanjutkan “perihal rasa tentangmu, ibarat membangun semesta baru yang sebelumnya pernah aku hancurkan dan tak mau aku bangun lagi dan semua berubah ketika aku bertemu denganmu, semangatku berapi-api untuk membangun semesta baru. Sampai aku sadar bahwa ada sesuatu yang membatasi, namun semesta sudah keburu aku bangun. Semesta yang kali ini aku bangun tidak akan aku hancurkan lagi karena aku lelah untuk terus membangun dan menghancurkannya berkali-kali. Biarkan semesta kali ini tetap terbangun dengan aku yang terjebak di dalamnya, dan sengaja di semesta kali ini aku sudah menghilangkan pintu dan jendela agar tidak ada jalan keluarnya. Aku biarkan waktu saja yang akan menghancurkan semesta baru ini beserta isi-isinya.” 

    Di tengah gigihnya aku mencuri dengar, ada suara musik yang tak asing mulai mencoba untuk merusak konsentrasi telingaku. Hingga aku melupakan mereka dan ikut bersenandung atas musik yang berhasil mencuri perhatianku. Sial, sang pencuri malah tercuri.

    Ketika aku mulai sadar perhatianku dicuri oleh musik yang tak asing ku dengar. Telingaku mulai kembali untuk berkonsentarsi di meja belakang. Terdengar hentakan kaki, terlihat Teman Pria berdiri seperti ingin mengucapkan kalimat perpisahan mereka di hari itu “Tenang, santai saja. Semua yang bertemu pasti akan berpisah, sama seperti kita, kapan saja bisa terjadi. Tinggal lihat waktunya saja, cepat atau lambat. Terimakasih sudah mengajarkan keikhlasan tanpa harus mengucapkan. Tidak apa-apa kalau hasilnya sia-sia, karena tulus seharusnya tak mengharapkan apa-apa.”

    Aksi curi dengar pun berakhir, Teman Pria pergi meninggalkan Teman Wanita tanpa ekspresi sedih sama sekali. Teman Wanita yang hanya berdiam diri di saat curi dengar beraksi tampak beranjak pergi dari kedai kopi yang semakin disekaki manusia. Dari apa yang sampaikan Teman Pria tadi, aku mendapatkan satu pandangan baru perihal hidup untuk cukup dan bahagia jangan terlalu sulit ataupun terlalu tinggi, sederhana saja. Seperti cukup dengan sendiri dan bahagia dengan kesendirian.

    Aku pun ikut beranjak keluar meninggalkan meja dan sisa-sisa tetesan kopi yang tak ku minum dengan khidmat karena sibuk mencuri. Malam semakin menujukkan dirinya, manusia-manusia terus berdatangan. Aku yang habis mendengarkan orasi singkat dari Teman Pria mencoba mencari jalan untuk mulai hidup bahagia dengan kesendirian.

  • Saat sudah membuka pintu ruangnya, saat sudah mengizinkan berdua bersama dalam satu ruang dan ketika bosan datang, seenaknya pergi begitu saja dengan mengunci kembali pintu ruang tanpa peduli masih ada aku yang terjebak di dalam.

    Pintu Ruang
  • Ada banyak kemampuan yang harus dilatih sebagai manusia untuk hidup di dunia. Kemampuan untuk bekerja, kemampuan untuk bersosial, sampai kemampuan untuk diri sendiri, seperti memasak atau menjahit. Semua itu dilatih berdasarkan tujuan tertentu dengan masa waktu yang tidak sedikit, tergantung dari tingkat kesulitan dan kemauan untuk melatih kemampuan itu sendiri.

    Menurutku ada satu kemampuan yang juga harus dilatih manusia, yaitu melatih kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian. Tidak ada hal yang menjamin bahwa kita akan selalu hidup berramai-ramai atau berpasangan. Tidak ada satu hal yang pasti untuk menjamin itu. Kita semua sebagai manusia selalu punya kesempatan risiko untuk hidup sendiri. Hidup dengan segala kemungkinan atas kehilangan yang siap menyapa di depan, akan menjadi masalah jika kita memberikan ekspektasi atas kehilangan-kehilangan tersebut. Jadi, tidak ada salahnya untuk memulai melatih kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian.

    Aku menyakini kemampuan ini akan sangat berguna di masa depan, kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi resiko kehilangan yang menyapa di depan. Tentu, ini dilakukan untuk kebaikan diri kita sendiri. Banyak orang yang tidak siap menghadapi kesendirian karena kehilangan. Padahal mereka sadar, kemungkinan mereka disapa oleh kehilangan sangat besar. Tapi anehnya, banyak dari kita paham akan risiko ini tapi tidak banyak yang bisa memiliki kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian. Mungkin penyebabnya karena mereka terlalu percaya diri hidupnya akan selalu berramai-ramai atau berpasangan, atau mereka memang enggan untuk berlatih karena tak bisa memilih sebab dibutakan kenyamanan kehidupan berpasangan.

    Atas segala risiko kehilangan yang siap menyapa di depan akan berpusat pada ekspektasi kita akan sesuatu kehilangan tersebut. Ekspektasi bisa dikatakan menjadi sumber masalah utama manusia dalam menikmati kekecewaan. Semakin tinggi ekspektasi, semakin tinggi kekecewaan. Tapi banyak dari kita tak sadar akan hal ini, masih saja terjebak dalam ekspektasi tinggi. Lalu ketika kecewa sudah datang, mulai menyalahkan siapapun di sekitarnya. Padahal, ini salahnya sendiri kenapa mau berekspektasi terlalu tinggi atas suatu hal yang sebenarnya dia sadari bahwa tak ada yang menjamin ekspektasinya terhindar dari kekecewaan.

    Melalui kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian, kita akan terbiasa untuk tidak berekspektasi kepada apapun dan kepada siapapun. Semua manusia memiliki kesempatan untuk saling mengecewakan, hanya dirimu sendirilah yang sebenar-benarnya tidak akan pernah mengecewakan. Melalui kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian, kita belajar untuk lebih peduli atas diri sendiri, menyayangi diri sendiri, menjaga diri sendiri, sampai belajar untuk tidak mengecewakan diri sendiri sebagai balasan karena diri juga tidak akan pernah mengecewakan kita.

    Daripada sibuk untuk menghabiskan waktu atas ekspektasi orang lain yang tidak memiliki jaminan apapun, lebih baik kita sibuk untuk melatih kesendirian. Mempersiapkan diri atas segala risiko kehilangan di depan, karena ketika kehilangan sudah menyapa, kita sudah terbiasa. Melatih kemampuan untuk pandai menghabiskan waktu sendirian pada akhirnya akan menghasilkan lega. Bukankah yang selalu dicari manusia dalam hidup adalah kelegaan? Dengan melatih kesendirian, mul kita sendiri?

  • Tim Produksi Mimpi

    Di akhir pekan dengan cuaca panas menyengat, aku mendapat pesan dari teman lama yang katanya ingin menyampaikan kekesalannya. Kekesalan atas mimpi yang kerap kali datang di tiap matanya terpejam.

    Katanya, entah mengapa tidur menjadi hal yang paling menyebalkan belakangan ini. Hidupnya, terasa dikuasai benalu yang melulu hadir sebagai bunga tidur. Tak tahu ini ulah siapa, ulah Tuhan melalui semestanya yang coba bercanda, atau ulah dirinya sendiri yang masih saja memikirkan yang sebenarnya ingin dilupa.

    Lalu pertanyaannya siapa sebenarnya yang memiliki hak atas mimpi? Apakah ada seseorang yang bisa mengatur bagaimana mimpi di tidurnya? Bila ada, siapa?

    Dia terus bertanya-tanya karena ingin belajar tentang bagaimana mengkoordinir mimpi. Bila tidak ada, lantas siapa yang selalu merancang cerita dalam mimpi kita? Siapa sutradaranya? Siapa penulis skenarionya? Dan punya hak apa mereka menyusupi cerita dalam tiap tidur seseorang?

    “Siapa orang itu? biar langsung saja ku bunuh karena sudah menghadirkan cerita yang tak diperkenankan dalam tiap tidurku,” ujarnya berapi-api dalam pesan singkat digital di aplikasi hijau.

    Lanjutnya dengan rasa yang begitu penasaran, dia kembali bertanya. “Apa mungkin justru diri kita sendiri yang menciptakan dan mengkoordinir mimpi? Kita sendiri yang menciptakan tim keproduksian mimpi? Secara tidak sadar merekrut sang sutradara dan penulis skenario untuk menghasilkan suatu cerita, dengan cerita yang diambil dari apa yang selalu kita pikirkan, yang selalu ingin kita lupa. Bila iya, berarti sumber masalahnya ada pada diri kita sendiri atas sebuah mimpi yang hadir dan terciptanya cerita yang tak diperkenankan. Dengan begitu untuk menghentikan keproduksian mimpi ini adalah dengan memusnahkan sang pemilik mimpi, yaitu diri sendiri dengan cara apapun. Termasuk dengan menghilang dalam hitungan jumlah penduduk dunia.” ucapnya memelas.

    Sebenarnya, ketika dia mengucapkan kalimat di atas paragraf ini justru aku yang bertanya-tanya. Apakah sebenarnya dia benar-benar dihitung dari jumlah penduduk dunia? Jika pun menghilang, apakah benar-benar berdampak untuk dunia? Atau pertanyaan ini terlalu kejam jika aku tanyakan pada teman yang sedang kalut menghadapi mimpinya di tiap malam?

    Seolah pasrah, dia kembali melanjutkan.

    “Kepada tim keproduksian mimpi yang sampai hari ini masih saja berproduksi, kalian tidak lelah? Sudah 2 minggu masih saja memproduksi cerita dalam tidur. Tak peduli durasi waktu tidur, kalian masih saja tetap berproduksi. Aku yakin kalian sama lelahnya dengan aku yang selalu kalian sajikan cerita yang sebenarnya tak aku perkenankan. Bisakah kita sama-sama beristirahat? membubarkan tim keproduksian dan kembali pada tempatnya masing-masing. Walaupun sebenarnya aku tak tahu dimana tempat kalian, yang pasti mari kita berhenti. Berhenti dengan cara apapun, menghancurkan semua alat keproduksian dan jangan kembali lagi untuk kembali merangkai cerita yang ingin dilupakan, atau apakah harus memusnahkan sang pemilik mimpi agar keproduksian ini tidak kembali berproduksi? Karena dengan begitu tim keproduksian akan kehilangan penonton setianya.

    Kepada tim keproduksian mimpi, mari berhenti, mari sudahi. Aku tahu kalian bekerja untuk tidak melupakan sesuatu yang ingin dilupa. Tapi kalian harus tahu, ini sangat melelahkan. Namun, bila kalian masih ingin berproduksi di hari-hari berikutnya, tak ada jalan lain selain mengatur siasat, merencanakan semat, memantapkan niat, bersiap menjadi keparat agar sang pemilik mimpi musnah segera.”

    Sebentar, sebelum kita melanjutkan cerita ini. Aku mau bertanya dulu kepada kalian. Apakah sudah mulai merasakan mual? atau mulai merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari mulut kalian setelah membaca paragraf terakhir di atas?

    Jika iya, mari kita akhiri. Karena ketika aku membaca pesan itu dengan sigap dan cermat, jariku cepat membalas untuk meminta menyudahi semua cerita itu. Sebab, jelas kita bukan bagian dari tim keproduksian yang dia katakan itu.

  • Kenapa kita harus khawatir dengan kesendirian? Apakah kesendirian itu sebuah beban yang begitu berat jika dibandingkan dengan berbagai macam masalah yang kita hadapi? Sebentar, apakah kesendirian merupakan sebuah masalah? Sehingga harus menjadi sebuah kategori beban yang harus kita masukkan dalam daftar hidup kita?

    Dalam sebuah “kesendirian” sebenarnya ada banyak perspektif yang bisa diambil. Tentu perspektif paling awal yang biasanya diambil adalah sedih, minder, insecure dan perspektif-perspektif nihil lainnya. Padahal dalam memaknai kesendirian ada banyak perspektif lain yang bisa diambil. Apalagi sebagai makhluk yang mengaku memiliki Tuhan, harusnya kesendirian bukan menjadi sebuah masalah.

    Begini, aku beri beberapa perspektif lain dari suatu kesendirian dalam ranah makhluk yang mengaku memiliki Tuhan. Bagaimana jika Tuhan membiarkanmu sendiri karena Tuhan sayang denganmu, karena Tuhan peduli denganmu, Tuhan menjaga perasaanmu dari manusia-manusia yang sangat bisa menghancurkan hatimu begitu saja. Pernahkah berpikir begitu?

    Lalu, bagaimana jika kesendirian merupakan sebuah kesempatan untuk mengejar sesuatu yang belum bisa kau capai? Tuhan membiarkan kau sendiri agar kau memiliki waktu lebih untuk fokus kepada banyak hal terutama sesuatu yang ingin kau capai atau kesempatan-kesempatan lain, bisa saja kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga, karir, mungkin juga cita-cita bahkan hobi pun bisa.

    Jadi, masih mau untuk terus berburuk sangka atas suatu kesendirian? masih mau untuk terus terjebak dalam perspektif nihil yang sudah pasti sangat merugikan?

    Aku sudah beri perspektif lain atas kesendirian, coba mulai dipertimbangkan. Jika kau memiliki perspektif yang lain, coba tuliskan di kolom komentar di bawah atau jka kau punya argumen yang kuat untuk membenarkan sikap nihilmu itu, tuliskan juga aku ingin lihat seberapa dalam sikap nihil itu mengekangmu.

    Hidup ini singkat, tapi kita memiliki banyak pilihan untuk menanggapi arti dari suatu kesendirian. Merugilah kita kalau hidup yang singkat ini hanya terjebak untuk menikmati sedih.